TSH#0009 ‘ Semut itu Tidur Pulas’

Ada pemandangan yang menari k dan mengharukan pada siang ini. Ketika selesai sholat Jumat di masjid dekat kantor tempat bekerja. 

Ketika mau ambil sendal untuk balik ke kantor. Tak sengajamata ini melihat ‘semut hitam yang sedang tertidur pulas. Dengan pakaian dekil, celana panjang, sendal dan baju yang warnanya agak memudar.

Tampak raut wajah lelah dan capek dari semut hitam itu. Tertidur pulas, sangat pulas sekali. Nafasnya teratur sekali, padahal saat itu hawa sedang panas cerah terang benderang. Ternyata kondisi ini tak mengganggu dari tidur pulasnya ‘semut hitam.

Disamping toilet wanita, hanya beralaskan ubin saja. Tanpa ada tikar dan kasur pun. Namun semut itu sedang tertidur pulas dengan sederhanya. 

Coba bayangkan, jika ‘semut hitam itu adalah orang tua kita? ­čÖé

Advertisements

TSH#0008 ‘Semua Butuh Kamu’

Tak peduli seberapa banyak uang yang kamu miliki, seberapa banyak gelar akademik yang dimiliki, dan seberapa banyak pengalaman berorganisasi yang kamu masukin.

Semua itu tak penting, memang masyarakat jauh lebih membutuhkanmu dengan segala keterbatasanmu. Ada lelayu, kamu yang selalu diandalkan. Ada laden dan upacara kenduri, kamu juga sering dipakai. Ada acara penting lainnya mesti kamu yang jadi terdepan.
Kamu itu orangnya supel dan paling tak bisa berkata tidak kalau dimintai pekerjaan. Tak heran dan salah jika kamu sering kurang tidur, sering libur ketika bekerja. Dan sering paling sibuk jika ada acara dikampung.

Kamu tak perlu berkata siapa kamu, karena masyarakatlah yang tahu siapa itu kamu, dan apa peranmu itu?


Hey, kamu semut hitam. Sehat selalu yak, karena banyak orang lain yang sering memerlukan bantuanmu…. ­čÖé

TSH#0007 ‘Malaikat Kecil’

Kemarin malam, tepatnya berada di lampu merah simpang lima Bantul. Ketika, sedang asyik nunggu lampu hijau menyala. Tiba-tiba kedua mata ini dipaksa untuk mengamati seekor semut hitam yang dari arah utara mengendarai sepeda onthel.

Tampak dari raut wajahnya wajah kelelahan dan wajah was-was. Menyetir sepeda onthel hanya dengan satu tangannya saja. Semut itu tak memakai jaket, padahal malam itu jujur hawa dinginnya sungguh luar biasa. Rambutnya gondrong dengan pakaian ala kadarnya. Sedang mengayuh sepeda dari arah utara ke selatan.
Tangannya satu dipakai untuk menyetir sepeda onthel, dan tangannya yang satu?
Tangannya yang satu dipakai untuk memegangi ‘malaikat kecil yang sedang duduk tertidur pulas. Malaikat kecil itu pulas banget tidurnya, mulutnya yang mungil terbuka, pertanda nyenyaknya tidur malam itu.
Bisa jadi ‘malaikat kecil itu menemani bapaknya yang bekerja seharian di tempat kerjanya. Malaikat kecil ingin menemani bapaknya, atau bisa jadi malaikat kecil itu memang ingin diboncengkan bapaknya. Sekedar jalan-jalan biasa saja. 
Memang tiada nuansa seromantis malam itu, ya malaikat kecil itu duduk tertidur pulas dijaga sang bapak yang khawatir akan keselamatannya….

TSH#0006 ‘Semut Hitam Terkuat’

rasa bersyukur manusia terhadap Allah
Via Chilinaris.blogspot.co.id

 

Malam ini entah mengapa tiba-tiba bisa sampai di masjid di daerah Bantul. Dari perempatan Dongkelan lurus saja,  ada lampu merah masih lurus,  melewati 2(dua)  buah SPBU Pertamina masih lurus. Masjid berada di sebelah barat jalan,  dekat sekali dengan Jalan Raya Bantul -Jogja. Masjidnya cukup bagus dan megah.

Berada di urutan, shof nomor dua. Duduk di samping pintu masuk masjid sebelah Selatan. Duduklah semut hitam sedang duduk menepi,  mendekat dengan arah pintu masjid. Di saat para jamaah berdiri untuk melakukan sholat,  semut hitam ini tetap saja duduk dengan khusyuknya. Posisiku malam tadi tepat berada di sebelah kanannya. Memakai baju warna hitam pekat,  dengan kombinasi garis lurus warna putih. Memakai celana panjang warna abu-abu, tak lupa memakai peci warna hitam. 

Continue reading “TSH#0006 ‘Semut Hitam Terkuat’”

TSH#0005 ‘Pasangan Romantis’

Tangan semut hitam yang putra itu digenggamnya dengan erat,  penuh makna dan dipegangnya dengan penuh hati hati. Tangan semut hitam putri itu pun juga digenggam erat oleh semut hitam putra. 

Mereka berjalan perlahan,  menyusuri pinggiran jalan Raya Parangtritis. Memakai pakaian sederhana,  semut hitam memakai jilbab dan rok panjang. Sementara semut hitam putra memakai celana panjang dan memakai pakain lengan panjang yang sudah usang. 

Memakai sendal jepit untuk berjalan diatas aspal yang memanas terkena sengatan matahari. Panas! 

Mereka berjalan perlahan,  maju selangkah demi langkah. Deru suara mesin kendaraan bermotor pun tak dihiraukannya. Mereka tetap saja berjalan ke arah selatan. Terus dan terus berjalan, dengan dibantu sebuah tongkat di depannya. 

Tongkatnya yang lebih kurang panjangnya 1 meter itu di ayunkan digerakkan ke depan,  kanan dan kiri. Terus saja dilakukan oleh semut hitam yang putra. 

Ya,  Allah ya Rohman ternyata kedua semuat hitam itu tuna netra,  tak bisa melihat dunia ini.  Mereka di uji dengan tingkat kesabaran yang belum tentu kita bisa untuk menerimanya.  Mereka harus menjalani segala keputusan Allah sang Khalik dengan segala kesabarannya. 

Tampak dari luar,  tangan semut hitam Putri itu digenggam erat oleh semut hitam Putra.  Digenggam erat dengan penuh Kasih sayang,  mereka pun bisa membuat hati orang melihatnya pun berdecak kagum. 

“Liat,  betapa mesranya mereka itu, manusia lain pun dibuat cemburu dengan kemesraan mereka berdua. “

A WordPress.com Website.

Up ↑