Biasa Saja?

Ketika ada artist terkenal lewat depanku, di saat banyak orang mengeluarkan smartphone untuk minta selfie, wefie, story instagram, apalah itu bentuknya. Namun, aku biasa saja… Hanya sesekali lihat dan ‘oh dia seperti itu kalau dilihat dari dekat, jarang saya mengeluarkan smartphone untuk mengambil foto, apalagi berdua.

Ketika ada suatu kajian taklim, tabligh akbar, aku gak terlalu repot dengan mengambil video. Merekam video dari awal hingga akhir, sampai kadang malah gak paham dengan yang disampaikan ustad. Hanya mengejar postingan di medsos. Gak, saya gak terlalu mengejar itu semua. Cukup ambil beberapa momentum foto yang bagus dan menulis dalam sebuah catatan. Terus diposting lewat blog, saya lebih suka menulis daripada membuat video, lebih puas saja. Apalagi memaksa untuk bisa duduk sedekat mungkin dengan ustad, gak gak banget!

Luruskan niat dan luruskan niat, jangan sampai niat mulia itu berkurang karena ada motif tersembunyi lainnya.

Aku juga jarang foto selfie, karena yang memang tidak suka saja. Apalagi pamer di media sosial, tiap menit, tiap jam ganti profile picture. Boleh-boleh saja, namun aku gak nyaman aja 🙂

Advertisements

Membaca itu apa Penting?

Budaya yang ‘Hilang

Khalayak orang di muka bumi ini mayoritas sependapat dengan istilah ‘ Membaca buku itu sama dengan membaca dunia. buku itu jendela Dunia, barang siapa membaca buku sama berarti dengan membaca dunia. Bahkan tidak heran jargon ajaib itu sering ditemukan di ruang sekolah dasar ditulis ditempel dengan tulisan yang menakjubkan?

Membaca itu tentu ada hubungannya dengan Islam, kita tahu bahwa wahyu kali pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad Sallahu’alaihi wa sallam adalah ‘iqra‘ artinya bacalah. Diulangi sampai tiga kali, Iqraiqraiqra‘ bacalah bacalah bacalah!

Continue reading “Membaca itu apa Penting?”

One Day

Hari ini Senin, 10 September 2018 aku kedua kalinya menonton film drama dengan cerita sangat menyentuh relung hati. Belum pernah aku melihat film drama sampai diulangi hingga 2 kali.

Bercerita tentang seorang pria pecundang bodoh yang tak pernah dianggap orang. Menjadi penggemar rahasia bagi salah satu teman kerja di kantornya.

Dalam suatu kesempatan pria bodoh itu membunyikan lonceng di puncak salju, konon memiliki mitos bisa mengabulkan permintaan orang yang membunyikan lonceng itu.

Sederhana sekali impian pria bodoh itu, dia hanya ingin menjadi pacar bagi wanita yang menjadi perhatiannya selama ini, hanya satu hari itu lebih dari cukup.

Seperti pendaki Mount Everest mereka rela mati melaluinya, mengapa mereka ingin menaklukannya? Karena memang sudah cinta, ketika seseorang sudah cinta dengan sesuatu tak perlu ada alasan untuk menjelaskannya, dan keberanian itu muncul sendiri ketika cinta itu muncul

Rasa ini masih sama

Perasaanku, masih sama ketika kali pertama bertemu. Gugup, jantung berdegup dengan kencang, dan hati ini berdesir. Di depan makhluk berjilbab warna  cokelat itulah ‘hati ini kembali berdesir lagi…

Kutitipkan Dia…

Hanya itulah kalimat yang pantas ku sampaikan kepada Mu, dzal pemilik seluruh kehidupan dan ketetapan di alam semesta ini. Semuanya ada dalam kendali Nya, tak ada tempat yang pantas digantungkan kecuali kepada Nya.

Kutitipkan dia, ya Allah dengan segala hal yang ada di dalam dirinya. Tolong jaga dan lindungi dia sebagaimana Engkau melindungi kesucian ibunda Siti Maryam ibu Isa Almasih alaihissalam. Wanita yang mulia di alam semesta yang namanya diabadikan dalam al qur’an. 

Sekarang saya di sini sedang berusaha untuk mengikhtiarkan dia agar bisa menjadi pasangan halalku, dengan segala keterbatasan dan ketidakmampuanku saya mohon tolong bimbing saya bimbing kami agar bisa mempersiapkan waktu yang telah Engkau sediakan. 

Dan kami mohon, jadikanlah kami orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat dan bersyukur. Salah satunya adalah Engkau perkenalkan Dia dalam kehidupanku.

Ya, Allah hanya dengan Mu lah kutitipkan dia dengan seutuhnya…

*kamar

A WordPress.com Website.

Up ↑