Semarak GASTASI (Gelar Anak Sholeh Berprestasi) oleh AMM Palbapang Bantul

Tak seperti biasanya Ahad, 9 Desember 2018 Balai Desa Palbapang Bantul terlihat begitu semarak. Tampak adik-adik kecil putra dan putri dengan baju taqwa dan gamis di dampingi dengan bapak atau ibu yang mendampinginya. Lengkap dengan tas gendong aneka warna di gendong di pundak kecilnya. Ternyata Ahad pagi kemarin diselenggarakan GASTASI (Gelar Anak Sholeh Berprestasi). Kegiatan GASTASI diselenggarakan oleh anggota Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Palbapang yang terdiri atas Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiyah, serta didukung sepenuhnya oleh Pemerintah Desa Palbapang, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bantul, dan para donatur.

Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui potensi dan prestasi yang dimiliki anak-anak. Serta untuk menumbuhkan kesadaran dan peran umat Islam dalam upaya mengembangkan sumber daya manusia yang memiliki kualitas moral dan intelektual yang Qur’ani. Menurut Ketua Panitia GASTASI Sa’id Supriyadi mengemukakan insyaAllah kegiatan ini rutin diadakan setiap tahun sekali. Tampak tim Panitia menggunakan seragam serba hitam khas AMM Palbapang hilir mudik membantu mengkondisikan adik-adik yang aktif di dalam balai desa Palbapang.

Continue reading “Semarak GASTASI (Gelar Anak Sholeh Berprestasi) oleh AMM Palbapang Bantul”

Advertisements

Darwis Kecil

Di depan masjid Gede Kauman inilah seorang anak muda usia 18 tahun asyik bermain permainan ‘go back through the door atau sering disebut permainan ‘gobak sodor.

Remaja belia itu ditemani kawan sejawatnya Sipon, Kemat, Damar dan Gandar sesang asik bermain permainan yang baru diketahuinya.

Remaja ini punya mata yang terhunus telanjang setajam ainun nasar. Kulitnya kuning bak warna kelapa gading. Perawakan kecil tinggi menyeruak laksana pohon kelapa yang menjulang ke langit.

Tingkahnya gesit dan cekatan, bergerak maju dan mundur mencari celah agar bisa masuk melewati penjagaan dari lawannya. Yah, kampung Kauman melawan kampung Ngadisuryan.

Continue reading “Darwis Kecil”

Aku Memilihmu, Muhammadiyah

Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya, mengapa pada saat ini bisa mengenal bahkan menjadi bagian dari organisasi warisan dari K.H.Ahmad Dahlan. Dipakai pakai logika pun tak akan pernah sampai, namun itu semua akan menjadi bisa jika Allah ta’ala sudah menggerakkan dan memberikan ketetapan Nya kepada semua makhuk di alam semesta ini, tanpa terkecuali salah satunya adalah Aku.

***

Aku sejak dari kecil dibesarkan dalam keluarga sederhana, hidup di sebuah kampung desa Kiringan ,Canden, Jetis, Bantul. Orangtuaku hidup sangat sederhana, juga dengan pengetahuan agama Islam yang standar. Lingkungan tempat tinggal kami mayoritas adalah warga Nahdiyyin (organisasi Nahdhatul ‘Ulama, sering disebut Warga NU) hal ini terlihat dari pemahaman agamanya, cara mengamalkannya dan cara keseharian mereka dalam beribadah kepada Allah ta’ala. Kampung kami hidup dalam nuansa yang tertib, aman, dan damai, sehingga terlalu banyak cerita menyenangkan jika mengingat kampung tempat ku dilahirkan dan dibesarkan.

Sejak kecil aku memang senang dan menyukai dunia berorganisasi, entah itu organisasi dalam bidang agama ataupun organisasi dalam bidang kemasyarakatan. Sering terlibat aktif dan sering hadir jika ada kegiatan yang melibatkan masyarakat banyak. Bagiku dengan berorganisasi kemampuan dalam memanajemen suatu acara akan cepat terlatih, banyak relasi dan tentunya akan mendatangkan pengalaman yang luar biasa. Organisasi sekelas remaja masjid, organisasi karang taruna serta menjadi salah satu tim promosi untuk mengembangkan potensi wisata kampung kami, itu adalah salah satu bukti bahwa aku memang menyukai dunia berorganisasi.

Aku bisa saja berbicara dengan sembarang orang, yang sering aktif berorganisasi bisa ku ajak berbicara, dari kalangan non organisasi juga bisa, bahkan bapak-bapak saja bisa ku ajak ngomong. Asalkan tetap menjaga adab dan sopan santun begitulah kedua orangtuaku mendidik anak-anaknya. Jumlah anggota keluarga ada 5 (lima) orang, aku anak yang tengah/ kedua sementara masih memiliki kakak perempuan dan adik laki laki, begitulah gambaran singkat keluarga sederhanaku.

Karena mayoritas warga adalah warga Nahdiyyin lambat laun aku paham akan ajaran dan amalan yang sering dilakukannya, dzikiran di makam malam hari, tahlilan ketika ada orang meninggal, wisata religi atau ziarah ke makam-makam para wali, nyadranan di makam menjelang puasa, dan sebagainya. Hubunganku dengan teman-temanku di sini alhamdulillah baik-baik saja, dulu ada beberapa warga yang sudah terkenal dengan pemahaman Muhammadiyah. Terus terang saja di kampungku, mendengar kata Muhammadiyah ada rasa berbeda, wajar karena tempatku mayoritas adalah warga Nahdiyyin.

Kalau waktu itu Aku ditanya tentang Muhammadiyah? Aku jawab saja, orangnya keras, sering membid’ahkan orang lain, sering mengkafirkan orang, serta merasa paling benar sendiri, jarang aktif di masyarakat dan tidak ramah cenderung sombong. Begitulah penilaianku awal tentang Muhammadiyah, dan rasa penilaianku itu hampir sama dengan mayoritas warga kampung, Aku yakin itu! Pandanganku tentang Muhammadiyah yang tertanam tetap seperti itu, hingga suatu saat ada hal yang menjadi jalan hidayah Aku bisa mengenalnya secara benar, yap mengenal Muhammadiyah yang sebenarnya?

***

Continue reading “Aku Memilihmu, Muhammadiyah”

Pemuda Muhammadiyah itu?

“Jadikan nilai-nilai Islam bukan untuk sekadar retorika atau knowledge pengetahuan, tetapi diamalkan dalam kehidupan dan amal nyata. Tunjukkan bahwa kader Pemuda Muhammadiyah menjadi teladan.”
_
“Sesuai dengan teladan Nabi Muhammad sallahu’alaihi wa sallam yang melekat dengan nama Muhammadiyah. Nabi Muhammad sallahu’alaihi wa sallam merupakan sosok yang diutus untuk menyempurnakan akhlak dan keseluruhan hidupnya dihiasi oleh nilai-nilai terpuji.”
_
_
“Pemuda Muhammadiyah jadilah penyuluh keadaban masyarakat. Jadilah obor bagi masyarakat. Berislam bukan sekadar beriman dan berilmu, tetapi juga beramal.”
_
Ketua Umum PP Muhammadiyah
( Dr.Haedar Nashir, M.Si)
_
#pemudamuhammadiyah
#kokam
#kokamindonesia
#catatanseorangkader

Mencintaimu

Aku mencintaimu dengan rahasia,
Tanpa perlu polesan pensil alis serta guratan gincu merah dibibir.

Aku mencintaimu dengan rahasia, seperti para penerima donor darah yang tidak slalu tahu identitas pendonor sukarelanya.

Aku mencintaimu dengan rahasia, layaknya memberikan bunga mawar membawa pesan tangan, namun tak perlu ditulis nama pengirimnya.

Aku mencintaimu dengan rahasia, seperti balon yang mengembang terbang tertiup angin. Balon akan pasti terbang, tanpa harus tau siapa yang meniupnya?

Aku mencintaimu dengan rahasia, tanpa perlu postingan dan gambar mesra di beranda medsos. Bagiku kemesraan itu tanpa pantas untuk diumbar, apalagi dengan orang spesial ku

Aku mencintaimu dengan rahasia, orang lain tak perlu tahu berapa kali namamu ku sebut selepas bermunajat kepadaMu.

Bagaimana hati ini berdesir ketika menyebut namamu, dan apa yang ku lakukan untukmu di balik kamar 2×4 meter itu.

Karena bagiku, cukup Dia saja yang tahu apa yang saya lakukan terus menerus untuk mu, entah dalam bait doa atau dalam perjuangan nyata untuk segera mengusahakannya…

_____
Jogja, 4 Nopember 2018

Gambar: wiwitblingbling.wordpress.com

@kelaspuisi @irayukii @narasibulanmerah
#MengunjungiNovember #KelasPuisi #Harlah3 #Harike4

A WordPress.com Website.

Up ↑